Tidak Pergi ke Gereja karena Kecewa


Beberapa saat lalu saya mendapat sms permohonan dukungan doa dari seorang saudara kristiani yang belum saya kenal sebelumnya. Secara singkat dia menceriterakan sudah lima bulan tidak ke gereja dan mendapat pelayanan.

Saya tanyakan apa yang jadi penyebabnya. Orang itu berkata, dia kecewa pada anggota jemaat gereja dan para penatuanya. Mereka adalah pendusta, sebab mereka tidak menjalankan ajaran cinta kasih Yesus secara sungguh-sungguh. Pelayanan mereka terasa pilih kasih. Yang "lemah" seperti dirinya kurang diperhatikan.

Untuk saudara ini, pelan-pelan saya akan memberikan gagasan iman saya. Semoga yang saya tulis betul-betul adalah jawaban terang yang bukan berasal dari daya nalar saya saja (yang dangkal dan sering tersampahi oleh aneka praduga), tetapi merupakan bisikan dari Roh Kudus atas situasi konkrit hidup.

Mengutamakan ajaran Kasih Kristus

Saya setuju sekali dengan cara pandang saudara: ukuran kristianitas adalah cinta kasih. Alangkah mengecewakan ketika melihat orang yang mengaku diri pengikut Kristus tetapi tidak melaksanakan point paling penting dari sabdaNya itu. Mungkin dalam berbagai kesempatan, saudara sudah menekankan hal ini kepada komunitas jemaat saudara tapi sepertinya tidak ditanggapi serius. Kekecewaan pun semakin mendalam. Bukan saja karena ketidakseriusan mereka memperjuangkan "kasih" tetapi juga karena tidak menghargai dan memperhitungkan suara "Tuhan" melalui mulut saudara.

Problem seperti ini tidak monopoli ada di Gereja saudara. Saya yakin tingkat keseriusan masing-masing kelompok jemaat (dari gereja apapun) menghidupi ajaran Yesus dalam komunitas mereka tidak sama. Mengapa?

Jawabannya sederhana. Betul Gereja adalah realitas rohani yang dikepalai oleh Yesus sendiri. Tetapi betul juga bahwa Gereja (saya menyebut jemaat kristiani) adalah perkumpulan manusia biasa yang masih bergulat di tengah dunia. Oleh karena itu segala kelemahan dan penyakit kemanusiaan tetap mempengaruhi kehidupan jemaat kristiani. Dalam hal ini kualitas pribadi para pemimpin dan anggota jemaatnya cukup memberi warna pada kehidupan suatu Gereja.

Problem saudara adalah kecewa melihat kualitas iman (keseriusan mereka menjalankan ajaran Yesus) mereka. Langkah yang saudara ambil adalah meninggalkan mereka. Tidak pergi ke gereja lagi.

Menurut saya pribadi, saudara sebaiknya mengambil jalan lain. Maksud saya begini. Masih dalam rangka "menghidupi" ajaran cinta kasih Yesus, saudara perlu mengarahkan cinta kasih juga kepada mereka. Kasihanilah mereka dalam keadaan seperti itu. Walaupun tidak disadari kehadiran saudara (yang mengutamakan kasih) di tengah mereka adalah sesuatu yang sangat berharga untuk mereka. Dengan cara yang lebih bijaksana (dalam bimbingan terang Roh Kudus) saudara pasti akan menemukan jalan untuk menabur benih sabda ini di tengah mereka. Soal hasilnya, serahkan kepada Roh Kudus.

Kekecewaan mungkin akan terus dirasakan untuk beberapa waktu. Yesus pun tidak semudah itu bisa mengubah tabiat para muridNya. Jadilah seperti Dia, tidak pernah meninggalkan mereka apapun sikap mereka.

Demikian gagasan saya. Saya berdoa semoga saudara dan keluarga terus dalam kelimpahan kasih karuniaNya.